Aceh Barat Miliki Madrasah Digital

oleh -77 views
Bupati Aceh Barat, Ramli MS dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh, Iqbal memotong pita peresmian madrasah digital, Kamis 18 Agustus 2022. (BASAJAN.NET/RAHMAT TRISNAMAL)

BASAJAN.NET, Meulaboh- Kabupaten Aceh Barat kini memiliki Madrasah Digital yang menerapkan proses belajar mengajar (PBM) secara penuh.

Madrasah Digital ini resmi diluncurkan pada Kamis, 18 Agustus 2022, oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Aceh Barat, di MTsS Harapan Bangsa Meulaboh. Peluncuran ditandai dengan penarikan tirai papan nama dan pemotongan pita oleh Bupati Aceh Barat, Ramli MS dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh, Iqbal.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Aceh Barat, Samsul Bahri mengatakan, ini merupakan Madrasah Digital perdana di daerah tersebut, yang menerapkan proses belajar mengajar (PBM) secara penuh.

Untuk tahap pertama, Madrasah Digital tersedia untuk dua kelas, yaitu satu kelas MTsS Harapan Bangsa Meulaboh yang diikuti 30 siswa dan satu kelas MAN 1 Aceh Barat yang diikuti 34 siswa.

Samsul menjelaskan, untuk mendukung pelaksanaan belajar digital di madrasah, pihaknya berkolaborasi dengan Platform Elearning Jelajah Ilmu.

“Madrasah Digital merupakan bentuk implementasi rencana strategis Kementerian Agama Tahun 2020-2024,” ujarnya.

Samsul berharap, Madrasah Digital ini mendapat dukungan penuh semua pihak, baik dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, dan Kementerian Agama. Terutama bantuan perlengkapan sarana dan prasarana, seperti komputer, internet dan pembiayaan lainnya, agar pelaksanaan Madrasah Digital dapat berjalan maksimal.

“Saat ini, siswa menggunakan laptop dan biaya sendiri untuk kelas digital,” tambahnya.

Selain itu, Samsul menyampaikan, saat ini madrasah di Kabupaten Aceh Barat juga telah menjalankan pembelajaran bahasa asing, salah satunya MTsS Harapan Bangsa Meulaboh.

“Bahasa Inggris, Arab, Jepang, Mandarin, dan Korea sudah berjalan selama dua tahun lebih,” ungkapnya.

Menurut Samsul, hal tersebut sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Aceh Barat yang menargetkan tahun 2024, lima ribu masyarakat di daerah ini mampu menguasai empat bahasa asing dengan menyediakan laboratorium bahasa internasional.

“Semoga pendidikan di Kabupaten Aceh Barat semakin maju, berkualitas, hebat dan bermartabat,” harapnya.

Akan Diusulkan pada Rencana Anggaran 2023

Menanggapi hal tersebut, Bupati Aceh Barat, Ramli MS meminta madrasah untuk segera menyampaikan proposal pengusulan perlengkapan sarana dan prasarana guna mendukung Madrasah Digital.

“Nantinya kebutuhan Madrasah Digital dan pembelajaran bahasa asing akan diusulkan pada rencana anggaran Kabupaten Aceh Barat tahun 2023,” ujarnya.

Ramli menyambut baik hadirnya madrasah digital di Kabupaten Aceh Barat dan terus mendukung program tersebut. Meski telah menerapkan kelas digital, namun ia meminta agar sistem manual tidak dilupakan.

“Hal tersebut untuk mengantisipasi hilangnya ilmu pengetahuan. Saat ini teknologi informasi dikuasai orang asing, yang kapan saja dapat menghentikan sistem digitalisasi,” terangnya.

Jangan Lupa Bahasa Sendiri

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Iqbal mengatakan, digitalisasi merupakan program prioritas Kementerian Agama untuk menjawab tuntutan perkembangan teknologi yang terus maju dan berkembang.

Menurutnya, generasi saat ini sudah sangat paham dengan penggunaan teknologi. Karenanya, dengan adanya madrasah digital dapat mengarahkan siswa untuk belajar secara digital dan meminimalisir penggunaan secara negatif.

“Dulu siswa menenteng banyak buku, sekarang dengan madrasah digital, siswa hanya membawa satu laptop saja. Semoga seluruh madrasah di Aceh Barat dapat menerapkan program ini,” ujarnya.

Iqbal mengaku terharu melihat siswa MTsS Harapan Bangsa Meulaboh yang sudah menguasai empat bahasa secara fasih. Menurutnya penguasaan bahasa asing sangat penting, ditambah Kabupaten Aceh Barat merupakan kawasan industri, dan banyak dikunjungi oleh orang asing.

Namun ia mengingatkan, selain menguasai bahasa asing, generasi muda jangan sampai melupakan bahasa daerah dan bahasa ibu pertiwi, baik bahasa Aceh maupun bahasa Indonesia.

“Bahasa Aceh dan bahasa Indonesia yang paling utama, jangan lupakan bahasa kita sendiri,” tekannya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.