Rektor, Warek dan Wadek UTU Beri Kuliah di Terengganu

oleh -230 views
Rektor Universitas Teuku Umar, Jasman J Ma'ruf.

BASAJAN.NET, Terengganu- Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Jasman J Ma’ruf, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Mursyidin, dan Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FISIP, Afrizal Tjoetra, menjadi dosen tamu pada program visiting lecturer di Universiti Malaysia Terengganu, Senin 7 Oktober 2019.

Dalam paparan kuliah singkat tersebut, ketiganya menyampaikan materi tentang Pemasaran dan Kreativiti, Sosiologi dalam Penyelesaian Konflik Aceh dan Perenanan Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pembinaan Perdamaian di Aceh.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UTU, Mursyidin menyampaikan, ilmu konflik dan perdamaian merupakan bagian dari ilmu sosiologi.

Ia mengatakan, konflik di dunia berawal dari pertikaian dua anak Nabi Adam as. Pertikaian yang berujung pada saling bunuh antara Habil dan Qabil. Sejak saat itu, konflik di dunia terus terjadi sampai hari ini.

“Baik konflik dalam keluarga, di dunia kerja, sesama teman, maupun negara dengan negara lain,” papar Mursyidin.

Lulusan Doktoral Sosiologi Antropologi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini mengatakan, salah satu konflik berkepanjangan di dunia sebelumnya  adalah konflik Aceh. Konflik Aceh merupakan konflik sosial, ekonomi dan budaya. 

“Konflik Aceh pernah terjadi lebih kurang 35 tahun, hingga tsunami datang,” urainya di hadapan delapan puluhan mahasiswa.

Dalam sejarah konflik Aceh, lanjut Mursyidin, pernah dilakukan beberapa usaha penyelesaian. Mulai dengan cara militerisasi, menetapkan Aceh sebagai daerah darurat militer, hingga perundingan. Namun semuanya tak membuahkan hasil.

Setelah gempa dan tsunami Aceh, pihak pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memutuskan berdamai. Penyelesaian konflik Aceh kala itu dilakukan dengan pendekatan budaya dan kemanusiaan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Teuku Umar, Mursyidin. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA)

“Pendekatan budaya dan kemanusiaan menjadi cara yang sangat efektif untuk diterapkan dalam penyelesaian konflik. Ini dapat diterapkan di negara-negara lain,” sebut Mursyidin.

Terkait pertanyaan mahasiswa tentang perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Aceh sebelum dan sesudah tsunami, Mursyidin menjelaskan, sebelum tsunami masyarakat Aceh dikenal dengan solidaritas tinggi, gotong royong, dan kental dengan adat istiadat.

“Setelah tsunami, kehidupan masyarakat Aceh berubah, hidup sendiri-sendiri. Budaya gotong-royong hilang. Semua pekerjaan dinilai dengan uang, dan hal ini masih terjadi sampai hari ini,” tegas dosen FISIP Unimal ini.

Sementara itu, Timbalan Naib Canselor Bidang Akdemik dan Antarbangsa UMT, Noor Azuan Abu Osman mengatakan, visiting lecturer merupakan program rutin yang diadakan pihaknya. 

Program ini bertujuan memberikan pengalaman suasana akademik internasional, sekaligus wawasan dan pengetahuan di berbagai bidang kajian keilmuan bagi mahasiswa. Selain itu, program visiting lecturer kerjasama antara UMT dengan UTU juga dalam rangka peningkatan capacity building untuk dosen, terutama dalam bidang riset dan publikasi yang bertaraf internasional.

“Visiting lecturer diawali di UMT, IsyaAllah tahun depan Dosen UMT yang akan ke UTU,” ujar Noor Azuan.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *