Nikah Usia Muda Rawan Stunting

oleh -54 views
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Pusat, Hasto Wardoyo pada seminar nasional keluarga sejahtera dan pencegahan stunting yang diadakan UIN Ar-Raniry di Banda Aceh, Rabu 9 Oktober 2019. (BASAJAN.NET/NAT RIWAT)

BASAJAN.NET, Banda Aceh- Kasus stunting tengah jadi perbincangan hangat di dunia kesehatan saat ini. Stunting dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya pernikahan usia muda. Angka stunting pada remaja yang menikah di usia muda cukup tinggi.

“Lebih parah lagi, terjadi pada anak yang lahir dari kehamilan di luar nikah,” ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Pusat, Hasto Wardoyo, di Banda Aceh, Rabu 9 Oktober 2019.

Pada seminar nasional keluarga sejahtera dan pencegahan stunting yang diadakan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hasto menyampaikan stunting tidak hanya menghambat perkembangan tubuh, namun juga sangat berpengaruh pada perkembangan otak anak. Kasus stunting selain dipengaruhi oleh kesehatan reproduksi, juga disebabkan pola asah, asuh dan asih dari orang tua.

Baca juga: Stunting Aceh Tertinggi Nasional

Hasto menjelaskan, secara statistik, angka stunting Indonesia menurun menjadi 30,8 persen dari sebelumnya 37,2 persen. Meski begitu, angka tersebut belum memenuhi standar World Health Organization (WHO), yaitu 20 persen. Sehingga Indonesia masih dianggap negara dengan stunting tertinggi. Sedangkan Aceh, berada pada posisi tiga secara nasional dengan penyandang stunting, mencapai 37,3 persen.

Baca juga: Dua Kecamatan di Bener Meriah dengan Kasus Stunting Tertinggi

Dalam hal ini, kata Hasto, BKKBN memiliki tugas mengatur tentang kependudukan, agar dapat memperhatikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk meningkatkan masyarakat yang unggul. Selain itu, ikut memperhatikan pembangunan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.

Ia mengajak kepada semua pihak untuk memahami tentang stunting, sehingga pencegahan mudah dilakukan. Khusus perguruan tinggi, pendampingan dapat dilakukan dengan berbagai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Warul Walidin mengatakan, pihaknya telah mengambil peran penting dalam menangani kasus stunting, khususnya yang terjadi di Aceh. Hal tersebut dilakukan melalui kajian, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Baca juga: KPM Mahasiswa UIN Ar-Raniry Fokus Penanganan Stunting

Warul menyebutkan, UIN Ar-Raniry telah menerapkan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) tematik beberapa tahun lalu. Pada 2019 ini, KPM yang dilaksanakan di Kabupaten Bener Meriah, mengangkat tema tentang stunting.

“Ini telah menjadi tanggung jawab kita bersama,” ucap Warul.[]

 

EDITOR: RAHMAT TRISNAMAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *