Mahasiswa Harus Jadi Cerminan Tangkal Demoralisasi

oleh -103 views
Wasekjen MUI Pusat, Tengku Zulkarnain (bersorban) saat memberikan kuliah umum di STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Senin 7 Oktober 2019. (BASAJAN.NET/ISTIMEWA)

BASAJAN.NET, Meulaboh– Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain menyampaikan, mahasiswa harus berperan aktif dalam meminimalisir dampak negatif yang terjadi dari arus demoralisasi. Menurutnya, ilmu pengetahuan agama Islam sebagai poin utama yang harus dimiliki oleh setiap kaum intelektual.

“Seperti pergaulan bebas yang saat ini sudah dianggap biasa,” ujar Tengku Zulkarnain, dalam kuliah umum di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Senin 7 Oktober 2019.

Dalam kuliah umum yang berlangsung di aula gedung STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh lama tersebut, laki-laki kelahiran Medan, 14 Agustus 1963 itu, mengenakan jubah gamis putih polos dan sorban yang menjadi ciri khasnya.

Dalam paparannya tentang peran kampus dalam menangkal demoralisasi pemuda di era globalisasi, Tengku Zulkarnain menyampaikan, mahasiswa harus jadi cerminan dan pandai menangkal demoralisasi yang merugikan.

“Jangan mau menjadi terkenal, tapi dengan cara yang memalukan,” pesannya di hadapan peserta kuliah umum, yang diikuti sejumlah dosen, mahasiswa dan masyarakat.

Menurutnya, demoralisasi merupakan suatu kondisi penurunan moral bangsa akibat arus globalisasi yang semakin gencar dan tidak terkontrol. Serta akibat masuknya budaya Barat yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

“Setiap kali melihat keburukan, kita yang menjadi sarjana tidak boleh diam,” pesan laki-laki berdarah Melayu dan Riau ini.

Wakil Ketua Bidang Akademik dan Kelembagaan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Muhammad Arif Idris mengatakan, kehadiran tokoh yang cukup populer di media massa ini, memberikan alternatif perspektif dan pengembangan wawasan terkait pemahaman anak muda yang saat ini sangat terpengaruh dengan zaman 4.0.

Menurut Arif, secanggih apa pun dunia elektronik saat ini, namun akhlak manusia menjadi penilaian utama yang harus benar-benar diperhatikan. Terlebih mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan agama Islam. 

“Kita harus bisa membatasi perkembangan modernisasi ini. Jangan sampai kita juga ikut terbawa arus dan lupa bahwa akhlak di atas segala-galanya,” terangnya. 

Kuliah umum tersebut terselenggara atas kerjasama Forum Muda Untuk Syariat Islam (FORMUSI) Aceh dengan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.D Diikuti 200 peserta, terdiri dari dosen, karyawan, dan mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, serta para aktivis organisasi keagamaan.[]

 

WARTAWAN : SITI AISYAH

EDITOR: RAHMAT TRISNAMAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *