Dua Kecamatan di Bener Meriah dengan Kasus Stunting Tertinggi

oleh -69 views
Mahasiswa UIN Ar-Raniry akan melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) tematik penanganan stunting di Kabupaten Bener Meriah. Foto direkam Selasa 1 Oktober 2019. (BASAJAN.NET/NAT RIWAT).

BASAJAN.NET, Redelong- Pemerintah Kabupaten Bener Meriah memberikan perhatian serius terhadap kasus stunting. Terlebih, daerah tersebut menjadi salah satu penyumbang kasus stunting tertinggi di Aceh.

“Kabupaten Bener Meriah menempati posisi ketiga terbanyak,” ujar Asisten Bupati Bener Meriah bidang ekonomi dan pembangunan, Abd. Muis, Selasa 1 Oktober 2019.

Hal tersebut disampaikan Muis saat menerima mahasiswa Kukiah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Ar-Raniry di halaman kantor bupati setempat.

Muis mengatakan, Bener Meriah yang didirikan 15 tahun silam, memiliki 10 kecamatan dan 232 desa. Dua kecamatan di antaranya terdapat kasus stunting terbanyak, yaitu Kecamatan Timang Gajah dan Bandar.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa KPM UIN Ar-Raniry yang menjadikan dua kecamatan tersebut sebagai lokasi pengabdian tematik yang fokus pada masalah stunting, sangat tepat.

Baca Juga: KPM Mahasiswa UIN Ar-Raniry Fokus Tangani Stunting

“Dua kecamatan yang dipilih tersebut, tergolong pada wilayah yang terdapat banyak kasus stunting untuk saat ini,” ujarnya.

Muis menyampaikan, Pemerintah Daerah Kabupaten Bener Meriah berharap, kehadiran mahasiswa KPM dapat membantu dan memberikan pendampingan kepada masyarakat. Terutama dalam menangani kasus kurang gizi dan tumbuh berkembang tidak normal bagi anak. 

Ia mengatatakan, Bupati Bener Meriah telah membentuk tim PKK yang akan membantu mahasiswa, bersama bidang desa dan kader desa. Selian itu, juga telah mendirikan satu unit rumah gizi, yang akan membantu program pendampingan nantinya. 

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, menempatkan 397 mahasiswa di Kabupaten Bener Meriah untuk melaksanakan KPM reguler tematik. KPM ini fokus pada pendampingan terhadap penanganan stunting. 

Keseluruhan mahasiswa di bagi pada dua kecamatan, yaitu Kecamatan Timang Gajah, 198 orang dan Kecamatan Bandar, 199 orang. Mereka akan berada di sana selama 45 hari.

Wakil Rektor bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry, Gunawan Adnan mengatakan, dalam pelaksanaan KPM tematik stunting, pihaknya menjalin kerja sama dengan pemerintah kabupaten Bener Meriah, Dinas Kesehatan dan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) Kemitraan Pemerintah Australia-Indonesia.

 

Masih di Bawah Prevalensi WHO

Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh. Ini bisa dialami oleh anak-anak yang mendapatkan gizi buruk, terkena infeksi berulang, dan stimulasi psikososialnya tidak memadai.

Anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia.

Menurut pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak, Damayanti Rusli Sjarif, dampak stunting bukan sekadar tinggi badan anak.

Kalau anak pendek, lanjut Damyangi, ketika remaja dia bisa tumbuh lagi. Ada kesempatan kedua untuk menaikkan tinggi badan. 

“Tapi kalau sudah stunting terkait pertumbuhan otak, ketika sudah besar, anak tidak bisa diobati lagi,” jelas Damayanti, seperti dikutip Basajan.net dari Beritatagar.id, Selasa 1 Oktober 2019.

Baca Juga: Stunting Aceh Tertinggi Nasional

Data Riset Kesehatan Nasional (Riskesdas) 2018 yang diolah Lokadata Beritagar.id menunjukkan, 30,8 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Angka ini turun jika dibandingkan data Riskesdas 2013, yakni 37,2 persen. Namun angka tersebut masih jauh dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 20 persen.

Ambang batas prevalensi stunting dari WHO mengategorikan angka stunting 20 sampai kurang dari 30 persen sebagai tinggi, dan lebih dari atau sama dengan 30 persen sangat tinggi. Indonesia tidak sendiri. Ada 44 negara lain dalam kategori angka stunting sangat tinggi.

WHO juga mencatat, 60 dari 134 negara masih memiliki tingkat stunting di bawah standar 20 persen. Padahal, stunting adalah indikator kunci kesejahteraan anak secara keseluruhan. Negara-negara dengan angka stunting tinggi merefleksi ketidaksetaraan sosial di dalamnya.

WHO menjadikan stunting sebagai fokus Global Nutrition Targets untuk 2025, juga Sustainable Development Goals untuk 2030.[]

 

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *