Belajar Cinta dari Hayya

oleh -184 views
FOTO: BASAJAN.NET/ISTIMEWA

BASAJAN.NET, Medan- Senyum dan tawa dari wajah-wajah polos membentuk siluet dalam studio gelap itu. Hanya layar landscape bersudut 210 derajat yang memancarkan cahaya. Namun hari itu, kebahagiaan menyelimuti seiisi ruangan.

Bagi sebagian anak-anak, menonton di bioskop adalah hal biasa. Tetapi bagi beberapa anak yang lain, hal ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Seperti halnya Kasih dan Faiz. Kebahagiaan mereka kian bertambah kala mendapatkan hadiah, karena berhasil menjawab pertanyaan dari panitian pemutaran film Hayya.

Minggu, 22 September 2019, sejumlah pemuda penggerak komunitas di Medan mengadakan Nonton Bareng (nobar) Hayya The Movie, di studio CGV Focal Point, Medan.

Para anak muda tersebut berasal dari Komunitas Kawan Nonton, Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP), Rumah Ceria Medan, Komunitas Peduli Anak dan Sungai Deli (KOPASUDE). Mereka juga mengundang anak-anak dari komunitas Pemuda Peduli Panti (PPP), dan Rumah Pintar Anak Sholeh.

Riuh tawa kembali terdengar saat anak-anak menyaksikan akting Ria Ricis yang lucu. Dalam film itu, Ria Ricis beradu peran dengan Fauzi Baadila dan Adhin Abdul Hakim, yang masing-masing berperan sebagai Rahmat dan Adin di Film The Power of Love 2: Hayya. 

Sejak nobar dimulai, anak-anak sangat antusias. Mereka berebut masuk bioskop. Panitia dan pendamping terus berusaha memandu agar mereka masuk teratur. Duduk berdasarkan nomor kursi yang tertera di tiket.

Muhammad Syukur Hutagalung, akrab disapa Alit mengatakan, selain tiket nobar gatis, anak-anak juga mendapatkan minuman dan popcorn. Penyelenggara juga menyediakan hadiah bagi anak-anak yang menjawab dengan tepat pertanyaan seputar film Hayya. Hadiah yang diberikan berupa tas dari KKSP, kaos dari Medan Clothing dan dan kue dari Medan Napoleon. 

Alit berasal dari komunitas Kawan Nonton Medan. Nobar tersebut kali kedua mereka lakukan  bersama anak-anak. 

“Anak-anak sangat senang. Ada di antara mereka, ini merupakan pengalaman pertama nonton bioskop. Ada yang kedinginan, ada yang bolak-balik permisi ke toilet dan ada juga yang malu-malu,” ujarnya terkekeh senang.

Nasriati Muthalib dari komunitas KKSP Medan, menjelaskan penyelenggaraan Nobar Hayya The Movie dimaksudkan untuk menyenangkan anak-anak dhuafa, disabilitas, anak  jalanan dan lainnya. Ia berharap, ketika anak-anak tersebut jadi orang sukses kelak, mereka mau berbagi dengan yang lainnya. 

“Mungkin bagi kita itu sederhana, tapi bagi mereka itu sangat luar biasa,” ujar gadis asal Peunaga Rayeuk, Meulaboh, Aceh Barat ini. 

Nasriati yang hari itu mengenakan baju dan rok abu-abu yang dipadukan dengan jilbab hitam, tampak sedikit kerepotan dalam mengatur anak-anak. Anak-anak yang hadir berasal dari berbagai latar belakang. Usia mereka lima hingga 17 tahun. Namun ia tetap terlihat semangat dan bahagia, karena nobar tersebut dapat terwujud.

Ia menjelaskan, dipilihnya film “Hayya” untuk Nobar sebagai wujud untuk mendukung syiar Islam melalui perfilman Indonesia. Sekaligus mengenalkan kepada anak-anak terkait konflik Palestina. 

“Bahwa di sana masih banyak anak-anak yang kurang beruntung. Kita harus bersyukur berada di Indonesia yang aman, sementara Palestina dalam keadaan gawat darurat,” ucapnya.

Nasriati sudah lama menjadi pegiat sosial. Sejak bergabung dengan KKSP Medan, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan menangani berbagai isu, terutama perempuan dan anak. 

Tak heran, jika film Hayya menjadi salah satu karya yang menarik baginya. Terlebih poros cerita film ini tentang seorang anak bernama Hayya, yang diperankan Amna Shahab.

Hayya merupakan anak berparas Arab. Seluruh anggota keluarganya meninggal dalam serangan bom zionis Israel. Ia diselamatkan oleh Rahmat, seorang jurnalis Indonesia yang bertugas sebagai relawan di Palestina. Sejak saat itu, hubungan Hayya dan Rahmat sangat dekat, layaknya ayah dan anak.

Konflik dimulai saat Rahmat kembali ke Indonesia. Tanpa ia sadari, Hayya mengikutinya hingga ke Indonesia, dengan cara menyelinap ke dalam koper. Kehadiran Hayya bersama Rahmat di Indonesia menimbulkan konflik tersendiri di kehidupan pribadi Rahmat. 

Karena sudah terlanjur sayang, dan dianggap anak sendiri, Rahmat berusaha mempertahankan Hayya dengan segala cara. Hayya mengalami trauma dan harus mendapatkan tempat tinggal yang aman. Namun di sisi lain, Rahmat sadar, keberadaan Hayya di Indonesia melanggar peraturan dua negara. Ia bisa dianggap melakukan human trafficking. 

Dalam film ini, Ria Ricis tampil beda dengan aksen melayu yang kental. Seluruh penonton dibuat terbahak-bahak oleh aktingnya sebagai sosok muslimah yang centil.

“Ricis membuat film Hayya menjadi lebih asyik. Aktingnya lucu, anak-anak semuanya ketawa,” ujar Nasriati.

Di sisi lain, Nasriati menilai interaksi Amna sebagai Hayya dalam film ini sangat sedikit. Padahal masih banyak yang bisa dieksplor. 

Berbeda dengan Maisyaroh, ia suka dengan peran Hayya yang tidak banyak ngomong. Maisyaroh salah satu penonton Hayya. 

“Walaupun tidak banyak ngomong, ekspresi Hayya sangat terlihat,” ujar Maisyaroh yang berharap lahir The Power of Love 3.

Pemutaran film Hayya yang dilakukan anak muda dari lintas komunitas di Medan tersebut, merupakan hasil donasi banyak pihak. Baik secara pribadi maupun lembaga, dengan jumlah dana yang terkumpul Rp.15 juta.

Dari dana tersebut, penyelenggara bisa menyewa satu studio full, dengan kuota 108 anak, 10 pendamping, dan 34 donatur yang ikut menonton. 

“Selain itu, juga untuk uang transportasi anak-anak,” kata Alit.[]

 

KONTRIBUTOR: PUTRI AGUS SILVIA

EDITOR: MELLYAN

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *