Sikundo dan Kesederhanaan Pendidikan

oleh -177 views

Oleh: Nurilam

(Founder Komunitas Bungoeng Nanggroe, email: nurilamabubakar@gmail.com)

 

BEBERAPA BULAN LALU, media lokal maupun nasional memberitakan tentang sebuah desa yang ada di wilayah Aceh Barat tepatnya berada di Kecamatan Pante Ceremen yaitu Desa Sikondo. Pemberitaan tentang kondisi desa tersebut yang belum terjamah oleh fasilitas atau sarana apapun, sempat membuat masyarakat Aceh Barat khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya menjadi kaget dengan hadirnya pemberitaan mengenai kondisi Desa Sikundo.

Secara geografis desa tersebut seluas 12 ribu hektare yang dihuni 138 kepala keluarga ini, tepatnya berada di kawasan ekosistem Ulu Masen. Sekitar dua per tiga luasan Sikundo merupakan kawasan hutan yang sebelumnya dikuasai oleh perusahaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Letak Desa Sikundo berada dalam ruang lingkup hutan lindung yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Aceh.

Keberadaan Desa Sikundo di pelosok Aceh Barat, tidaklah mudah masuk ke sana. Kita harus berjalan kaki dua jam dari Desa Jambak, pemukiman terdekat yang masih bisa dilalui sepeda motor. Sementara, jarak dari Desa Jambak ke Kecamatan Pante Ceureumen sekitar satu jam dengan kendaraan bermotor. Medan yang dilalui berupa tanah berkerikil, berlobang, terjal serta terdapat longsor dibahu jalan. Akses akan lebih sulit dilalui jika hujan turun, akan tersangkut dalam tanah yang mencengkeram roda kendaraaan. Mata pencaharian masyarakat hanya berkebun dan bertani. Selebihnya, memancing ikan di sungai atau mencari berbagai jenis batu cicin. (https://www.mongabay.co.id).

Warga setempat sudah lama menantikan sarana seperti jalan beraspal, sekolah yang disertai tenaga pendidik dan cahaya dari tenaga listrik yang menyinari indahnya alam Sikundo, tentu ini menjadi cita-cita bagi masyarakat didesa tersebut. Inilah tiga hal yang menjadi harapan masyarakat Desa Sikundo. Dengan adanya sarana tersebut tentunya masyarakat dapat dengan mudah mengakses ke kota kecamatan, bahkan mereka sangat mudah mengjangkau berbagai macam fasilitas yang sudah disediakan oleh pemerintah seperti melakukan pengobatan ke puskesmas. (Liputan6.com).

Kondisi Kekinian Sikundo

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh penulis bersama tim pada tanggal 10 Juli 2019, Desa Sikundo sudah mendapat salah satu sarana yang dinantikan yaitu tenaga listrik yang sudah terhubung ke  setiap rumah warga. Tentu hal ini, menjadi kabar gembira bagi masyarakat Desa Sikundo dan masyarakat Aceh.

Menurut penuturan warga, sudah sekitar dua bulan mereka menikmati aliran listrik yang menjadi harapan mereka berpuluh tahun lalu. Mereka sudah dapat menonton siaran TV bersama, untuk saat ini televisi baru ada dirumah kepala desa. Wajah kebahagiaan yang terpancar dari masyarakat Desa Sikundo memang tak dapat dipungkiri, mereka sangat antusias pada saat menceritakan hal tersebut. Disamping itu, pembangunan pada akses jalan sedang dalam proses pengerokan dan pelebaran bahu jalan, diperkirakan rampung pada tahun 2020.

Namun ada satu pengharapan lagi yang belum tertunaikan, yaitu sarana pendidikan yang memadai. Saat ini di Desa Sikundo hanya memiliki satu sekolah. Mirisnya karena tidak adanya tenaga pengajar, ditambah medan sulit dilalui menuju sekolah, harus menyeberangi sungai atau melalui jembatan darurat yaitu kabel yang dihubungkan melintasi lebarnya sungai Sikundo. Akhirnya sekolah tersebut ditutup dan sekarang dihuni oleh hewan ternak.

Pendidikan Sikundo Tanggung Jawab Bersama

Tentu pendidikan ini menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat, karena melalui pendidikanlah mata rantai kebodohan dapat diputuskan. Sejatinya pendidikan anak-anak Desa Sikundo adalah kewajiban bersama yang harusnya mereka mendapatkan hak yang sama dengan anak-anak yang ada didaerah lainnya atau anak-anak perkotaan.

Sebagai seorang muslim, tentu kita memahami bahwa setiap apapun yang kita peroleh di dunia ini akan menjadi pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Allah SWT, termasuk ilmu.

Sejauh mana kita telah mengamalkannya, sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya : Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanyai tentang empat perkara: tentang umurnya, dalam hal apa ia habiskan; masa mudanya, untuk apa dia gunakan; tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan; dan tentang ilmunya, untuk apa ia amalkan (HR. ath-thabarani, Tamam Bin Muhammad, Abu Bakar ad-Daynuri).

Tentu para intelektual, akademisi dan pihak yang berwenang yang ada diruang lingkup Kabupaten Aceh Barat, memiliki tanggung jawab penuh terhadap kondisi pendidikan anak-anak di Desa Sikundo. Keberadaan mereka di Desa Sikundo menjadi salah satu fokus utama dalam membangun sarana pendidikan yang berkualitas untuk Aceh.

Tanggung jawab kita bersama bukan hanya sebatas memenuhi sarana pendidikan, namun juga memastikan tenaga pengajar yang siap mengabdikan keilmuannya kedesa tersebut adalah mereka yang berilmu dan memiliki moral yang baik, serta dapat menjadi teladan atau panutan bagi anak-anak Desa Sikundo. Semoga!

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis)

 

EDITOR : NURKHALIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *