Si Liar yang Kian Bernilai

oleh -153 views
Tas hasil kerajinan eceng gondok masyarakat Gampong Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat. (BASAJAN.Net/SITI AISYAH).

BASAJAN.Net, Meulaboh- Bagi sebagian orang, eceng gondok dianggap tumbuhan liar pengganggu yang tak bernilai. Namun di tangan Mursalin, tanaman yang biasa hidup mengapung di air ini, mampu disulap menjadi berbagai jenis kerajinan. Tak hanya bernilai seni, tapi juga ekonomi.

Ayah tiga anak ini merupakan warga Gampong Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat. Mursalin menceritakan, awal mula ia merintis usaha kerajinan dari eceng gondok setelah adanya pembinaan dari Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry yang melakukan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di desa setempat.

Para mahasiswa tersebut membentuk kelompok dan membina masyarakat untuk mengembangkan  kerajinan dari eceng gondok.

“Kebetulan di daerah kami banyak ditumbuhi tanaman liar tersebut,” ujar Mursalin, Rabu 3 April 2019. Hari itu ia mengenakan oblong putih, celana jeans biru dan blangkon batik coklat.

Mursalin bersama ibu-ibu pengrajin eceng gondok di Gampong Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat. Foto: Siti Aisyah

Setelah KPM mahasiswa selesai, masyarakat berusaha untuk tetap menjalankan program kerajinan eceng gondok. Namun setelah berjalan beberapa bulan, program tersebut terhenti. Masyarakat kesulitan memasarkan hasil kerajinan mereka.

Meski begitu, Mursalin ngotot. Ia bersama istri tetap melanjutkan menganyam eceng gondok. Berkat kegigihannya itu pula, ia mendapatkan kesempatan magang di Yogyakarta, selama 20 hari.

Selama pembinaan, Mursalin dikenalkan berbagai macam jenis anyaman, pengolahan, hingga proses pengawetan eceng gondok. Usai pembinaan, tak mau menyia-nyiakan ilmu yang didapat, Mursalin mengajak warga desa untuk melanjutkan kembali kerajinan eceng gondok yang sempat terhenti.

“Alhamdulillah saat ini pemesanan sudah mulai lancar, bahkan permintaan ada yang dari luar daerah,” ungkapnya.

Kerajinan eceng gondok yang dikreasikan Mursalin bersama warga menghasilkan berbagai produk seperti tas, topi, kursi, tempat sampah, keranjang dan lainnya.

Harga dari tiap produk bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp1 juta. Tergantung tingkat kerumitan dan lama waktu pembuatan.

Misalnya, untuk pembuatan sebuah keranjang, membutuhkan waktu tiga jam. Sedangkan tas, membutuhkan waktu pembuatan hingga enam jam. Lain motif, lain pula tingkat kerumitannya.

Untuk bahan baku siap olah, dibutuhkan waktu 15 hari. Mulai dari pengambilan dan pengeringan, sehingga bahan baku tersebut siap dijadikan kerajinan.

Jumlah kerajinan enceng gondok yang dihasilkan tak menentu, tergantung permintaan konsumen.

“Misalnya bulan ini, permintaan untuk membuat tas 300 buah. Semua pengrajin bulan ini hanya mengerjakan pesanan tas,” terangnya.

Mursalin mengaku, dirinya sering kewalahan jika menerima orderan dalam jumlah besar. Saat ini, ia hanya memiliki sepuluh pengrajin yang membantunya mengerjakan tiap pesanan.

“Takutnya tidak sesuai target, jadi mau tidak mau harus kami tolak,” sesalnya.

Pengrajin eceng gondong di desa tersebut merupakan ibu-ibu rumah tangga, dengan penghasilan Rp3 juta per bulan.

Ibu-ibu pengrajin eceng gondok di Gampong Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat. Foto: Nurul Fahmi.

 

Lisma, 34 tahun, salah satu pengrajin mengatakan, permintaan kerajinan enceng gondok semakin hari semakin meningkat. Diakui, hal tersebut sangat membantu perekonomian keluarga.

“Alhamdulillah pemesan setiap harinya semakin bertambah, setidaknya mampu menutupi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

M. Hasan, Keuchik  Gampong Kubu mengapresiasi adanya kelompok pengrajin anyaman eceng gondok. Mereka sering dijuluki kelompok kreatif Kubu.

Adanya kelompok tersebut telah membuka sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Mereka tak lagi perlu bergantung pada pertanian. Hasan berharap, kelompok kreatif Kubu terus berkembang hingga menjadi sentral pengrajin eceng gondok di Aceh Barat.

“Saya berharap pemerintah lebih mendukung kegiatan ini, sehingga menjadi contoh untuk daerah yang lain,” pungkasnya.[]

 

WARTAWAN: SITI AISYAH

EDITOR: MELLYAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *