Harmoni Cinta Mamarita

oleh -338 views

BASAJAN.NET, Meulaboh- “Berbakti pada ilahi, berbakti pada pertiwi menjadi penerus generasi Sekolah Tinggi Agama Islam”

Bait lagu di atas lumrah terdengar pada prosesi-prosesi seromonial Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirudeng Meulaboh. Bait-bait itu tak hanya sebatas nyanyian penghibur semata, namun memiliki makna yang begitu dalam.

Loading...

Setidaknya begitulah yang dirasakan Mamarita, 34 tahun, pencipta himne STAIN Teungku Dirudeng Meulaboh. Kulitnya sawo matang, tinggi semampai. Gaya bicaranya pelan dan teratur. Senyum simpul selalu terukir dari wajahnya. Hari itu ia mengenakan baju batik, jilbab biru dan kacamata. Ia tinggal di Jalan Samudra II, LK 4 Ujong Kalak Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat.

Mamarita merupakan alumni STAIN Teungku Dirudeng Meulaboh. Ia terdaftar sebagai mahasiswa pada medio tahun 2000, kala kampus masih menyandang nama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT). Sebelumnya ia sempat mencicipi pendidikan tiga semester di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Terganjal masalah ekonomi, memaksanya untuk berhenti dan pulang kampung.

Ketika memutuskan untuk melanjutkan studi di STIT, Mamarita tak ingin setengah-setengah. Berbekal sedikit pengalaman saat berkuliah di Banda Aceh, Mamarita merasa ada hal yang harus dilakukan di kampus pada waktu itu. Terutama pada tradisi pengenalan kampus bagi mahasiswa baru, yang menurutnya masih monoton.

Tahun 2003, Mamarita dipercaya untuk menjabat Bendahara Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM. Kepercayaan itu tak ia sia-siakan. Bersama Ruslan, Erva Sartika, Hermanto, Mishar Piani, Hakmi Suryadarma, Salmiati dan Fitri Yeni, bersepakat untuk memberikan sesuatu bagi kampus. Berkat kreatifitas dan kegigihan delapan sekawan ini, akhirnya mereka berhasil menciptakan himne dan mars STAI (kini STAIN). Dinyanyikan untuk pertama kali pada pembukaan Orientasi Pengenalan Kampus atau ospek kala itu.

“Tanpa dukungan kawan-kawan waktu itu, tentu karya ini tidak akan lahir. Sebenarnya ini hasil kerja bersama, bukan hanya saya. Untuk itu saya ingin sampaikan terimakasih kepada mereka semua, terutama untuk orang yang di samping saya,” ungkap ibu tiga anak ini, sambil tersenyum dan menatap suaminya, Ruslan.

Ruslan merupakan satu di antara tujuh rekan Mamarita waktu itu. Kini laki-laki itu telah menjadi pendamping hidupnya.

Usaha Mamarita dan rekannya dalam menciptakan himne dan mars mahasiswa waktu itu, bukan tanpa kendala. Omongan-omongan miring dari pihak yang kurang senang dengan aktivitas mereka kerap terdengar.

“Sudahlah tak usah diingat, anggap saja itu sebagai ujian untuk cinta dan ketulusan kami bagi kampus,” ucap guru Sekolah Inti Dasar Meulaboh ini ketika ditanya siapa pihak kurang senang yang dimaksud.

Menjelang wisuda perdana Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh, tahun 2006, lagu keagungan itu kembali dinyanyikan. Meski awalnya Mamarita sempat menolak, dengan anggapan kampus waktu itu takkan bersedia menggunakan karya mereka. Namun karena desakan adik letingnya yang tergabung dalam panitia ospek waktu itu, hatinya pun luluh. Ia bersama Erva Sartika kemudian merekam himne dan mars mahasiswa untuk dipelajari oleh adik letingnya dan dinyanyikan pada saat wisuda.

“Waktu itu mereka berhasil meyakinkan saya. Mereka bilang ingin membentuk paduan suara,” kenangnya.

Setelah hari itu, buah karya Mamarita dan rekanya terus menggema pada tiap-tiap kegiatan resmi kampus, sampai hari ini. Terutama saat ospek dan wisuda. Banyak dari rekan-rekannya kemudian menyarankan agar Mamarita menjumpai pihak kampus untuk mengurus hak cipta terhadap karyanya, namun ia menolak.

“Tanpa disampaikan pun kebenaran itu pasti akan muncul sendiri,” yakinnya.

Keyakinan Mamarita akhirnya terbukti. Rabu 20 April 2016, ia bersama Ruslan suaminya, mendapat undangan khusus dari Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Dr. H. Syamsuar, M.Ag. Rasa bingung dan penasaran sempat membayangi ia dan suami. Sejak ia menyelesaikan kuliah tahun 2010, belum pernah mendapat undangan dari kampus, apalagi diundang khusus oleh orang nomor satu.

Namun semua pertanyaan yang sempat muncul di benaknya langsung terjawab ketika ia dan suami memutuskan untuk menemui Abi sapaan akrab Ketua STAIN, pada hari itu juga. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan langsung terasa. Ia tak dapat menyembunyikan keharuannya ketika Abi menyampaikan tujuan mengundangnya.

“Saya ingin bersilaturrahmi sekaligus ingin mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah berjasa terhadap kampus ini,” ucap Abi waktu itu.

“Kami mohon maaf jika himne dan mars STAIN yang telah ibu Mamarita cipta, ada perubahan,” sambung Abi.

Mendengar ucapan Abi, Mamarita senang bukan kepalang. Matanya berkaca-kaca. Perasaannya campur aduk kala itu. Ia sama sekali tak menyangka kalau orang nomor satu di STAIN Teungku Dirudeng Meulaboh itu, khusus mengundangnya hanya ingin membahas tentang himne dan mars yang ia cipta bersama rekan-rekannya 13 tahun silam.

Secara keseluruhan, himne dan mars ciptaan Mamarita dan kawan-kawan tak ada yang berubah, kecuali irama pada salah satu bait lagu. “Alhamdulillah kalau karya kami dapat digunakan untuk kemajuan kampus. Kalau ada yang kurang tepat, silakan dimodifikasi,” ujarnya.

Berkat sumbangsihnya, Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh memberikan penghargaan kepada Mamarita bersamaan dengan para tokoh yang telah berjasa terhadap pembangunan kampus. Penyerahan penghargaan itu dilakukan pada wisuda angkatan dua, Kamis 26 Mei 2016. Selain itu, kampus juga memberikan bantuan pendidikan S2 kepadanya.[]

 

WARTAWAN: RARA YUFITA

EDITOR: JUNAIDI MULIENG

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *