Pusaka dari Palimbungan

Pusaka dari Palimbungan

TUBUH rentanya terlihat ringkih. Dari balik kemeja batik yang tak terkancing rapi, tulang rusuknya terlihat. Namun senyum tak luput dari wajahnya. Orang-orang mengenal lelaki itu dengan sebutan Teungku Usman. Ia adalah pewaris Rapai Ceubrek. Rapai pusaka.

Rapai Ceubrek merupakan rapai peninggalan dari kakek Teungku Usman. Suatu malam, sang kakek bermimpi membuat rapai dari Pohon Ceubrek. Terilhami dari mimpi itu, tak menunggu waktu lama Kakek Teungku Usman mencari pohon Ceubrek yang sudah cukup tua. Ia mengambil dahan yang paling bagus, yang kemudian dikenal dengan Rapai Ceubrek.

Bentuk rapai bulat dan mirip tempayan atau panci. Badan rapai atau dalam bahasa Aceh disebut paloh terbuat dari kayu. Biasanya kayu dipilih dari pohon Nangka atau Meudang Ara. Namun rapai pusaka milik Teungku Usman berbeda. Tubuh rapai ini terbuat dari pohon Ceubrek. Dapat dikatakan sangat jarang atau bahkan tidak ada rapai yang terbuat dari pohon Ceubrek.

Bagian atas dari tubuh rapai ditutup dengan kulit. Sedangkan bagian bawahnya dibiarkan kosong. Rapai dahulu tidak dicat. Warna coklat tua muncul secarara alami dari kayu yang sudah berusia tua. Sekarang, seiring berkurangnya jumlah kayu akibat penebangan liar, sangat sulit mendapatkan kayu yang berumur di atas seratus tahun. Sehingga digunakan cat dan pelitur untuk memperindah rapai.

Rotan atau dalam bahasa Aceh disebut awe digunakan untuk mengencangkan atau meninggikan suara. Untuk menghasilkan suara gemerincing, ditambahkan lempengan logam di samping tubuh rapai. Namun rapai Ceubrek sangat sederhana, tidak ada tambahan logam maupun cat untuk mempercantik. Rapai Ceubrek mengandalkan suara, bukan rupa.

Proses pembuatan rapai pada umumnya sama. Pohon yang dianggap cocok untuk rapai ditebang dan diambil bagian bawah yang dekat dengan akar. Lalu direndam di dalam lumpur selama beberapa bulan untuk pengawetan. Baru kemudian dikorek bahagian dalamnya, seperti sebuah lubang bulatan besar. Kemudian ditinggikan sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Diperlukan teknik dan keahlian khusus agar rapai tidak pecah atau retak.

Umumnya, pinggiran atau tubuh rapai diperhalus serta diberi ukiran pahatan berupa tekuk-tekuk garis lurus. Pada bagian atas diberi kulit kambing yang telah diolah sedemikian rupa sehingga halus dan tipis. Rapai merupakan karya budaya yang mengandung nilai seni tinggi. Mulai dari jenis kayu yang dipergunakan, beratnya, tekuk garis ukirannya yang lurus membulat, serta pemasangan atau penempelan lempengan tembaga atau besi, sangat  kokoh dan jarang yang lepas atau bengkok. Rapai jarang retak atau pecah, walaupun telah berusia lebih dari ratusan tahun.

Rapai termasuk alat musik tradisional yang masuk dalam keluarga drum. Dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan tanpa stick. Rapai sering digunakan pada upacara-upacara adat di Aceh, seperti upacara perkawinan, sunatan,  mengiringi tarian dan sebagainya. Intinya rapai hadir di setiap kesempatan hajatan orang Aceh. Menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh, baik secara filosofïs atau kultural.

Tabuhan Rapai berperan mengatur tempo, ritme dan gerakan yang dapat membangkitkan semangat dan kemeriahan. Biasanya Rapai didukung beberapa alat musik lainnya, seperti seurune kalee (sejenis seruling) khas Aceh.

Berdasarkan catatan sejarah, disebutkan mulanya alat musik pukul ini dibawa oleh Syeh Abdul Kadir Jailani, ulama besar fiqih dari Persia yang hidup di Baghdad dari tahun 1077 hingga 1166 Masehi ( 470-560 Hijriah). Ada yang menyebutkan Rapai dibawa oleh seorang penyiar Islam dari Baghdad, bernama Syeh Rapi. Dalam dialek atau logat orang Aceh (ada yang menyebut Syeh Rifai) dan dimainkan untuk pertama kali di Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Khalifah  sekitar abad ke-11.

Rapai dimainkan secara bersama yang terdiri dari delapan sampai dua belas pemain, yang disebut awak rapai. Permainan Rapai tersebut dapat menjangkau pendengaran dari jarak jauh akibat gema yang dipantulkan. Bahkan lebih dari enam kilo meter, tabuhan rapai masih jelas terdengar.

Rapai dimainkan dalam posisi duduk melingkar atau duduk berjejer. Tangan kiri memegang paloh atau tubuh rapai, tangan kanan memukul kulit rapai. Bila dipukul dibagian tengah, akan menghasilkan suara dengungan atau gema yang besar, tapi tak terlalu tajam suaranya.

Teungku Usman mencontohkan, menabuh rapai di bagian tengah yang menghasilkan suara besar dan rendah. Seperti nada do di dalam tangga nada. Bila dipukul pada bagian pinggir, mendekati tubuh rapai, akan mendapatkan suara tajam dan nyaring.

Dalam sebuah penampilan rapai, biasanya dimpimpin oleh seorang syeh. Ia membacakan syair-syair terkait nasehat agama, serta hikayat. Dalam memainkan sebuah irama lagu, syeh dibantu oleh beberapa pemukul rapai, sehingga memberikan kemeriahan dalam setiap hajatan di Aceh.

Pada umumnya, suatu pertunjukkan diawali dengan tempo lambat. Kemudian sedang, cepat dan pada klimaknya, dimainkan dalam tempo sangat cepat. Irama dan gerakan yang mulanya pelan, kemudian cepat dan sangat cepat yang dilakukan serentak merupakan ciri khas kesenian di Aceh.

Di berbagai belahan dunia lainnya, terdapat alat musik yang hampir sama dengan rapai, namun terdapat perbedaan-perbedaan di antara alat musik pukul itu. Seperti Deyereh (doyra, dojra, dajre, doira, dajreja), dari Iran (Persia), Negara Balkan, Tajikistan, Uzbekistan dan Afghanistan, Daf, dari Timur Tengah, Kurdistan, Iran, Armenia, Afghanistan, Turkey, Tajikistan dan Azerbaijan, Bendir,  dari Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya dan Mesir, duff. Dari India, Bodhrán,dari Irlandia, Buben,dari Russia, Rebana, dari Indonesia, Malaysia, Mazhar, dari Mesir, serta Kanjira, dari India Selatan.

Dulu, rapai memang menjadi primadona. Rapai tampil sebagai hiburan di pesta pernikahan, sunatan, turun tanah bayi, dan sebagainya. Namun kini posisinya sudah tergeser dengan alat musik dan nyanyian yang lebih modern. Jarang kita dapati, apalagi di daerah perkotaan menampilkan rapai sebagai hiburan dalam pernikahan.

##

 

Rapai Ceubrek

 

 

Keistimewaan Rapai Ceubrek

Jika rapai lain bisa menggunakan kulit kerbau, sapi atau kambing jenis apapun, berbeda dengan rapai Ceubrek. Kulitnya khusus menggunakan kulit kambing bulu seribu. Jika tidak, maka suara rapainya tidak akan nyaring dan merdu.

Usman berkisah, sebelum memiliki Rapai Ceubrek, kakeknya beberapakali kalah dalam perlombaan. Namun sejak Rapai Ceubrek ada, sang kakek selalu memenangkan pertandingan Rapai. Ia menceritakan pertandingan-pertandingan yang dilakoni sang kakek. Saat itu, Presiden Soekarno baru saja kembali dari kunjungannya ke Aceh, di pesisir Barat Aceh diadakan piasan rapai. Para pemain rapai terbaik berkumpul, salah satunya kelompok Rapai Tujoh Khalifah yang paling terkenal dan tiada tanding. Selain itu, ada juga kelompok Rapai Ulee Balang Peureumbeu, Khalifah ben Sawang dan Rapai Ceubrek.

Kemenangan demi kemenagan yang diraih kelompok Rapai Ceubrek telah menjadi buah bibir di masyarakat, sehingga membuat kelompok rapai lainnya gentar. Bahkan mereka melakukan cara curang agar menang. Saat itu pihak lawan mengutus salah satu anggotanya untuk mencuri Rapai Ceubrek. Mereka berhasil mengambil salah satu rapai yang diyakini adalah Rapai Ceubrek. Namun hal itu tak berarti apa-apa, sang kakek kembali memenangkan pertandingan.

Setelah diusut, ternyata yang diambil bukan Rapai Ceubrek. Bentuknya yang kurang indah dibanding rapai lainnya, telah mengecoh lawan. Padahal menurut Teungku Usman, Rapai Ceubrek diletakkan paling atas, bersusun dengan rapai lainnya di tempat penyimpanan.

Dicok yang meukilat, kalah lom awaknyan (diambil yang mengkilap, kalah lagi mereka),” kisah Teungku Usman sambil tersenyum. Setelah itu, kemana pun sang kakek bermain rapai, ia selalu memenangkan pertandingan.

Rapai Ceubrek menyimpan banyak misteri, salah satunya mengenai pewaris. Pernah suatu hari saat Rapai Ceubrek masih diwarisi oleh Ayah Teungku Usman, Teungku Basyar. Sang Paman, mengambil rapai itu diam-diam, namun ketika dipakai rapai itu seakan bertingkah aneh. Tidak mengeluarkan suara yang merdu seperti biasanya. Karena kesal, oleh sang paman, Rapai Ceubrek dibuang ke kali Nyara (Alue Nyara).

Mengetahui perbuatan sang adik, dengan sabar Ayah Teungku Usman kembali mengambil rapai tersebut dari Alue Nyara dan memperbaikinya. Ketika Teungku Basyar menabuhnya, Rapai Ceubrek kembali seperti semula. Suaranya merdu dan nyaring.

“Rapai Ceubrek itu memilih sendiri orang yang menjaganya, Allah yang memilihnya. Kareuna tanyoe peuneujeut, kon seumeujeut (karena kita ciptaan bukan yang mencipta), dan semua akan kembali kepada Allah,” ujar Teungku Usman berfilosofi.

Rapai Ceubrek sampai saat ini beranggotakan 15 orang yang terdiri dari warga Palimbungan, Kecamatan Kaway XIV, Kabupaten Aceh Barat. Pemerintah daerah pernah memberikan bantuan balee untuk latihan dan penambahan beberapa Rapai.

“Kita senang ketika ada perhatian dari pemerintah, agar kesenian ini dapat terus hidup dan disaksikan oleh generasi masa mendatang,” ujar Teungku Usman.

##

 

Teungku Usman bersama Rapai Ceubrek

 

 

Digunakan Untuk Melepas Nazar

Setelah lebih dari 200 tahun, Rapai Ceubrek kini mulai beralihfungsi. Jika dulu menjadi primadona dalam laga tanding piasan rapai, kini lebih banyak digunakan untuk melepas nazar. Menurut Teungku Usman, untuk tahun ini saja sudah lebih dari 1000 orang yang melepas nazar dengan Rapai Ceubrek. Mereka datang untuk berbagai kebutuhan. Misalnya agar lancar ketika melahirkan, berharap sembuh dari sakit berkepanjangan dan sebagainya.

Untuk orang-orang yang bernazar, Teungku Usman biasanya akan menabuh rapai beberapakali sesuai permintaan. Ada yang tiga kali, lima hingga tujuh, bilangannya ganjil. Ia tidak pernah mematok harga untuk melepas nazar dengan tabuhan Rapai Ceubrek.

“Seikhlasnya. Pulang bak Allah (kembalikan pada Allah). Allah yang tunaikan, Allah yang sembuhkan, kita bukan apa-apa, harta adalah titipan,” ucap ayah tiga putri ini.

Meski demikian, nama Rapi Ceubrek masih cukup diperhitungkan. Mereka pernah tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta, tahun 2008 silam. Saat itu, Festival Budaya Aceh untuk perdamaian. Rapai Ceubrek menjadi primadona pentas. Kegiatan ini telah membangkitkan dinamika kehidupan masyarakat gampong yang diisi dengan kebersamaan, solidaritas, dan semangat meninggalkan trauma masa lalu untuk memulai suatu kehidupan yang damai. Komunitas Seni Damee Meulaboh (KSDM) dengan karya She Lagee, mengembalikan Rapai Ceubrek ke atas pentas. Disaksikan ribuan pasang mata, serta jauh dari tanah Aceh.

“Sèè” dalam bahasa Aceh berarti “geser” atau “menggeser”, maknanya adalah bergeser untuk memberikan tempat bagi yang lain. Sedangkan Lagee adalah style, gaya, perilaku ragam, lagak. Makna Sèè Lagee bermakna bergeser dari konflik–berbagai macam konflik menuju damai perdamaian. Damai yang dimaksud adalah damai dalam mengekspresikan diri, bebas mempunyai tujuan dan cita-cita. Bebas menjadi dirinya sendiri, membuka diri terhadap perubahan yang dibawa oleh zaman, tanpa meninggalkan akar budaya warisan leluhurnya.

Selain mengikuti festival, Rapai Ceubrek hingga kini masih sering digunakan untuk mengiringi zikir rapai, zikir maulid. Selain kemauan keras dari Teungku Usman dan penduduk Palimbungan agar kesenian ini terus hidup, yang membuat Rapai Ceubrek bertahan hingga kini karena rapai ini berbeda dengan rapai lainnya. Rapai Ceubrek  merupakan Rapai Duablah atau Rapai Duabelas. Syairnya yang sudah turun temurun kepada penerus Rapai Ceubrek, juga sangat berbeda dengan syair rapai lainnya.

Namun kini, Rapai Ceubrek lebih banyak diistirahatkan. Rapai Ceubrek baru dikeluarkan dari rumahnya apabila ada hajatan di kampung. Selain faktor usia, ditambah penyakit mata yang diderita Teungku Usman, ada kekhawatiran jika terlalu sering ditabuh, Rapai Ceubrek akan rusak.

“Saat tampil, Rapai Ceubrek hanya dibawa saja, yang ditabuh rapai lain. Meskipun rapai ini masih terlihat bagus, namun usianya sudah lebih 200 tahun,” ungkap Teungku Usman.

“Iya, tetap dibawa, untuk menghormati yang tua,” sambungnya.

##

 

Penulis bersama mahasiswa usai wawancara dengan Tgk Usman di rumahnya.

 

 

Pewaris Rapai Ceubrek

Kecemasan lain yang menghinggapi Teungku Usman perihal pewaris Rapai Ceubrek. Beberapa generasi sebelumnya, Rapai Ceubrek selalu diwariskan kepada anak laki-laki sulung.

“Tapi, saya tidak punya anak laki-laki. Tiga anak saya adalah perempuan,” ucapnya.

Namun ia tetap optimis, di tangan puteri-puterinya Rapai Ceubrek kembali berjaya. Ketiga puterinya sudah ia ajari mengenai seluk beluk Rapai Ceubrek, dan mereka antusias. Hal tersebut membangkitkan semangat dalam diri Teungku Usman akan masa depan Rapai Ceubrek.

Di balik wajah ramah Teungku Usman masih menyimpan menyesalan mengenai pendidikan yang ditempuhnya. Ia tidak pernah mengecap bangku sekolah, karena pada masa itu, opini yang berkembang di masyarakat, siapa yang bersekolah adalah orang kafir.

“Kondisi zaman saya muda berbeda dengan sekarang. Meskipun menyesal, tapi hidup harus terus berlanjut,” ujarnya.

Mengenai tahun kelahirannya, Teungku Usman sendiri tidak tahu pasti. Namun ia ingat saat peristiwa PKI 1965, ia sudah dewasa dan ikut membantu mengevakuasi banyak sekali jenazah di sungai Desa Palimbungan.

Saat ini, Teungku Usman menghabiskan masa tua bersama sang Isterinya Fatimah, yang setia mendampinginya. Tempat tinggal mereka sederhana. Rumah panggung yang terbuat dari kayu. Fatimah merupakan isteri kedua Teungku Usman, isteri pertamanya Hasanah, telah lama meninggal dunia.

Fatimah bertubuh mungil, keriput telah membalut sekujur tubunya. Gigi-giginya juga mulai keropos. Seperti suaminya, ia juga berwajah ramah dan suka tersenyum. Ia juga menyimpan banyak kenangan tentang Rapai Ceubrek. Ia sering menyaksikan sang suami menabuh rapai, baik untuk pentas maupun melepas nazar. Namun ada satu hal yang paling Hasanah ingat.

“Dulu, hampir setiap malam jumat rapai itu berbunyi, seperti ada yang menabuhnya. Tapi sudah beberapa tahun ini tidak pernah berbunyi lagi, kami pun tidak tahu mengapa,” ucapnya.

Siti Aisyah berkulit putih, tubuhnya kecil. Ia mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Teungku Dirundeng Meulaboh, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Gadis yang akrab disapa Aish ini, sangat menyesalkan generasi muda seperti dirinya mulai melupakan sejarah.

“Padahal kita sangat kaya akan warisan budaya dan sejarah, tapi generasi sekarang terlalu sibuk sendiri, dengan gadgednya,” keluh Aish.

“Saya sangat yakin, hanya sedikit dari generasi muda yang mengetahui keberadaan Rapai Ceubrek ini, belum lagi kesenian atau budaya dan sejarah lainnya,” sambungya berapi-api.

Aish mengajak generasi muda mulai lebih peduli dengan warisan budaya dan sejarah Aceh. “Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi, jangan terlalu sibuk dengan budaya luar hingga melupakan budaya sendiri,” ajaknya.[]

 

 

Wartawan: Mellyan

Editor: Junaidi Mulieng

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan