Sandiaga Uno, Erick Thohir dan “Making Indonesia 4.0”

Sandiaga Uno, Erick Thohir dan “Making Indonesia 4.0”
Sandiaga Uno dan Erick Thohir/instagram

Penulis: Feri Diansyah

 

Making Indonesia 4.0 adalah term atau slogan yang digagas Menperin Airlangga Hartanto untuk menunjukan kesiapan Indonesia memasuki Revolusi Industri Tahap 4 (Industri 4.0). Disadari atau tidak, ternyata Revolusi Industri sudah mencapai level 4.0 yang ditandai dengan Cyber Physical System berupa penggunaan internet dalam setiap proses supply chain, penyimpanan data di cloud, big data dan komputasi kognitif lainnya.

Revolusi 4.0 tidak hanya bekerja pada Industri berbasis teknologi seperti start up atau unicorn, melainkan sudah bergerak di segala jenis industri, baik itu energi, transportasi, konstruksi, bahkan pendidikan. Industri saat ini bergerak dengan ultra cepat. Siapa pun kondektur industri yang tidak mampu beradaptasi dengan pakem 4.0, maka hanya menunggu waktu untuk ditikung pada track lurus.

Gema Goeyardi, mengibaratkan Indonesia sebagai perusahaan besar, maha kompleks yang bergerak dalam sistem industri. Sebagai perusahaan, Indonesia wajib memiliki Board of Director (BoD) yang amat sangat cakap untuk memastikan perusahaan ini running well. BoD-nya Indonesia adalah stakeholder eselon tinggi yang merupakan jabatan politis yang diisi oleh aktor politik papan atas. Hingga saat ini, sulit bagi kita untuk percaya pada politikus. Alih-alih untuk memberikan problem solving, yang ada malah aset milik negara seperti kasur dan kompor yang digondol ke rumah pribadi. Hanya satu dua politikus yang cukup reliable.

Nama-nama seperti Sri Mulyani, Basuki Hadimulyo, Ridwan Kamil, Emil Dardak, Nurdin Abdullah dan Bima Arya, memang para profesional dan kompeten. Namun mereka bukanlah politisi murni, melainkan profesional yang sudah selesai dengan diri masing-masing, lalu turun atau mengambil posisi politik dengan niat mengabdi. Hasil kerjanya berbeda dengan yang mencari sesuap nasi sebagai politikus.

Politik sebagai jalan untuk menjadi BOD-nya Indonesia memiliki pola yang hampir sama, yaitu kaderisasi politik yang lemah (anak muda terbaik tidak tertarik politik praktis karena sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih layak dan bersih). Dana politik yang mahal, ketidakmampuan kader untuk memahami permasalahan dan issu balik modal politik. Hasilnya muncul pemimpin-pemimpin yang korup dan tidak kompeten, serta bermental rampok. Hal ini menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin hilang, sehingga tidak pernah ada yang namanya sami’na waatha’na antara masyarakat dengan pemimpin. Pemimpin hanya menjadi bahan bully di meja kopi. Pemimpin asik dengan duit kagetnya sendiri.

Dalam pandangan saya, munculnya Sandiaga Uno dan Erick Thohir di ring satu perpolitikan Indonesia memberikan optimisme tersendiri. Kedua orang ini adalah idola saya, bukan karena mereka memiliki afiliasi dengan perusahaan saya bekerja sekarang, tapi jauh lebih dari itu. Dengan Sandi, saya sudah mendengar namanya melalui Kaskus (platform paling hits di jaman awal perkuliahan saya tahun 2007), Sandi sering membagikan tulisan menarik di sana. Setelah itu, saya konsisten mebaca buku, mengikuti seminar dan menonton youtube yang ada Sandi-nya.

Dengan Erick Thohir, saya pertama kali mendengar namanya pada saat internship di Bakrie Tower tahun 2011. Saat itu, perusahaan tempat internship saya satu gedung dengan ANTV. Kala itu Erick sudah menjadi buah bibir di basement tempat makan karyawan ANTV. Beberapa tahun berselang, nama Erick makin melambung dan menguncang dunia olahraga, terutama sepabkbola, setelah membeli Inter Milan bersama sohibnya Ruslan. Bbulan lalu kembali muncul dengan judul Asian Games terbaik dalam sejarah.

Kedua orang ini adalah anomaly dalam perpolitikan Indonesia. Mereka cerdas, sangat positif, reliable, profesional dan tahu cara menjalankan sesuatu dengan baik.  Normalnya, orang seperti mereka tidak nyaman dalam exposure politik Indonesia yang sangat negatif. Saat ini, Indonesia setidaknya ketambahan calon BOD yang kompeten melalui Erick dan Sandi, bahkan mereka bisa jadi keran awal yang menginspirasi profesional muda lainnya untuk terjun ke dunia politik dan membawa Indonesia untuk siap bersaing dalam platform making Indonesia 4.0. (*)

 

 

Editor: Junaidi Mulieng

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan