Alquran Terjemahan Bahasa Aceh Segera Dicetak

Alquran Terjemahan Bahasa Aceh Segera Dicetak
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin AK, MA membuka secara resmi kegiatan Workshop Validasi II Penerjemahan Alquran ke Dalam Bahasa Aceh, Rabu Malam, 1 Agustus 2018 di Aula Aceh 3, Hotel Hermes Palace, Banda Aceh. (Basajan.net/Nat Riwat)

BASAJAN.net, Banda Aceh – Alquran Terjemahan Bahasa Aceh akan segera dicetak oleh Kementerian Agama RI. Terjemahannya telah masuk tahap penyelesaian validasi akhir. Validasi tersebut dilakukan dalam workshop II yang berlangsung 1-3 Agustus 2018 di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.

Ketua Panitia penerjemah, Abdul Rani, Kamis, 2 Agustus 2018 mengatakan, sebelumnya tim penerjemahan telah melakukan beberapa kali workshop, serta telah melaksanakan workshop validasi pertama pada 11 April 2018 lalu.

Abdul Rani menjelaskan, tim penerjemahan yang terdiri dari tujuh penerjemah dan tiga panitia tersebut, telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan terjemahan. Upaya tersebut dilakukan dengan menerima masukan dari para pakar berbagai disiplin ilmu, antara lain, ahli tafsir, pakar bahasa Indonesia dan Aceh, serta budayawan.

“Sejak MoU penerjemahan Alquran kedalam bahasa Aceh ditandatangani pada Maret 2017 silam, tim penerjemahan telah melakukan beberapa kali diskusi untuk menyamakan persepsi dalam pengunaan bahasa, baik pada workshop maupun rapat sesama tim,” tambah Abdul Rani.

Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Warul Walidin mengatakan, penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Aceh juga telah dilakukan pada abad ke 20 oleh Teungku Mahyuddin. Hal itu merupakan kali pertama Alquran terjemahan bersajak Aceh. Karya tersebut diterbitkan oleh UIN Ar-Raniry (dulunya IAIN) pada tahun 1985.

“Selanjutnya pada tahun 2008, karya Teungku Mahyudin tersebut kembali diterbitkan yang kedua kalinya yang difasilitasi oleh P3KI Ar-Raniry dengan BRR NAD-NIAS. Ini merupakan upaya penerjemahan ketiga yang dilakukan oleh pihak Kementerian Agama RI bersama UIN Ar-Raniry,” jelasnya pada pumbukaan workshop validasi II, Rabu malam, 01 Agustus 2018.

Warul menambahkan, Alquran penerjemahan tersebut fungsinya sangat bermanfaat bagi generasi masa akan datang. “Mereka bisa lebih mudah mempelajari dan mamahami Alquran dengan menggunakan bahasa Ibu, serta penyerapannya akan lebih dekat,” ujarnya.

Warul menegaskan, Aceh merupakan wilayah pertama datangnya Islam, baik di Nusantara maupun di Asia Tenggara. Para ulama telah membangun peradaban Islam dan tamaddun Islam pada abad ke tujuh masehi. Mereka mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam, sehingga dikenal bukan hanya di Nusantara, akan tetapi di Asia bahkan di dunia.

“Saya pernah membaca tulisan Nurkhalis Majid, mengatakan bahwa dahulunya bahasa melayu itu adalah bahasa tutur, tapi Aceh lah yang membuat bahasa tutur menjadi bahasa tulis disamping bahasa tutur, dan ini dikembangkan oleh para tokoh Aceh seperti Nurddin Ar-Raniry, Hamzah al Fansuri dan As-Singkili,” kata Rektor UIN tersebut.

Disamping itu, tambah Warul, bahasa Melayu pernah berkembang di Aceh yang akhirnya menjadi bahasa permersatu bangsa, yakni bahasa Indonesia. Di Aceh juga berkembang 13 bahasa lainnya, antara lain bahasa Gayo, bahasa Jamee, bahasa Simeulu dan lain sebagainya, namun yang banyak digunakan adalah bahasa Aceh.

“Mudah-mudahan nantinya akan ada terjemahan Alquran ke dalam bahasa lain seperti Gayo, Aneuk Jamee, Simuelue dan sebagainya,” harap Warul.

Warul juga menyampaikan apresiasi kepada tim penerjemah, panitia, tim validator serta seluruh tim yang terlibat dalam menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Aceh, karena dalam jangka waktu yang sangat singkat dapat diselesaikan.[]

 

Editor : Rahmat Trisnamal

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan