Menyebar ‘Virus’ Basajan Hingga ke Panti

Menyebar ‘Virus’ Basajan Hingga ke Panti
Aktivitas kelas penulisan kreatif pada program Basajan Saweu Panti, di SOS Desa Taruna Meulaboh, Minggu 11 Maret 2018.

BASAJAN.Net, Meulaboh- HARI ITU, Faiz mengenakan kaus coklat dipadu celana warna senada. Dengan santai ia duduk di bawah pohon rindang. Di depannya, tiga gadis sibuk dengan pena dan kertas, mereka sedang belajar merangkai kata. Duduk lesehan beralaskan rumput. Suasana sejuk ditambah angin sepoi-sepoi. Awan kelabu berarak di atas sana.

“Saya boleh ikut Kak?” tanya bocah laki-laki berambut jingkrak itu dengan tatapan ingin tahu. Usianya sepuluh tahun.

“Kelas berapa?” tanya saya.

“Kelas empat,” jawabnya malu-malu.

“Kak, boleh ikut ya,” rengeknya.

“Boleh,” jawab saya singkat, sambil memberikan kertas berwarna biru dan pulpen padanya.

“Faiz cita-citanya apa?” tanya saya lagi.

“Belum tahu, cita-cita saya banyak Kak,” jawabnya sambil tersenyum. Namun ia enggan menceritakan cita-citanya yang banyak itu.

Di bagian lain, masih dalam satu area yang sama, beberapa remaja laki-laki dan perempuan sedang sibuk membidik dengan kamera. Beberapa lagi terlihat sibuk memvideokan teman-temannya yang sedang menulis. Tiga gadis tadi tersipu malu, ketika mereka menjadi sasaran bidikan kamera. Mereka adalah anak-anak panti asuhan SOS Meulaboh yang sedang mengikuti kelas literasi media kreatif yang diadakan Basajan Creative School atau BCS.

Hari itu, Minggu, 11 Maret 2018, sepuluh mentor BCS mencoba berbagi dengan anak-anak panti asuhan SOS Desa Taruna Meulaboh melalui program Basajan Saweu Panti. Antusias terlihat dari seluruh peserta. Sebenarnya kegiatan ini ditujukan untuk anak-anak panti yang duduk di sekolah menengah pertama dan atas, namun Faiz berbeda. Ia tertarik mengikuti kegiatan menulis hari itu.

Setelah pembukaan dilaksanakan pada Sabtu malam, 10 Maret 2018, dengan dukungan pengurus panti asuhan, Mentor BCS memberikan materi mengenai penulisan kreatif, fotografi, videografi dan desain grafis. Setiap kelas diwajibkan menghasilkan karya, tidak hanya sebatas teori.

“Kami senang kakak dan abang-abang datang ke sini. Kami bisa banyak belajar,” ujar Diana.

Remaja 17 tahun itu telah berada di panti SOS sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pembawaannya ceria, namun sesekali tatapan matanya berubah sendu. Seperti menyimpan kesedihan.

Di samping Diana, Cut Sri Rahayu sedang sibuk menguntai kata, sambil sesekali tersenyum. Ia lebih senang dipanggil Ayu.

“Panggil Ayu saja Kak,” pintanya.

Gadis bertubuh langsing itu duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Tata Boga. Sedangkan Diana jurusan perhotelan, dan gadis manis berkulit putih di sisi Ayu juga siswi SMK, namun ia mengambil jurusan kecantikan. Namanya Rahmi, dari Aceh Selatan.

“Saya pulang kampung setahun sekali, kalau lebaran saja,” kisah Rahmi seolah tanpa beban.

Sejak pagi, ketiganya terlihat antusias mengikuti materi. Mulai dari belajar di dalam kelas, hingga akhirnya kami memilih sudut taman di halaman depan yang tampak asri.

“Kalau belajar di luar begini, lebih cepat terserap ilmunya,” ujar Rahmi.

Saat ketiganya menyerahkan karya berupa puisi dan cerpen hasil belajar hari itu, Faiz juga berusaha memberikan hasil karyanya. Meskipun hanya sebaris. Seorang anak laki-laki, terlihat akrab dengan Faiz, ia juga ikut menuliskan sesuatu di kertas HVS biru. Ternyata setelah dikumpulkan, yang ia tulis bukan puisi, melainkan gambar awan yang berarak dan pepohonan yang menjulang. Gambar Farhan itu pun disambut gelak tawa Faiz dan ketiga gadis. Entah malu ditertawakan, Farhan berlari menjauh dari kelompok kecil itu.

 

Kelas videografi

 

 

##

BANGUNAN bercat kuning itu terlihat asri. Bunga asoka putih dan merah jambu berjejer indah. Di sebelah kanan, taman kanak-kanak tampak terawat, begitu pula ruang pertemuan di sisi kirinya. Lebih ke belakang, rumah-rumah berjejer rapi, panti asuhan SOS Children’s Village Meulaboh terlihat nyaman untuk penghuninya.

SOS Children’s Village Meulaboh atau lumrah disebut SOS Desa Taruna Meulaboh, terletak di Desa Lapang Cot Nibong yang berjarak 3,5 km dari pusat kota dan 6 km dari tepi laut. Terdiri dari 15 rumah keluarga, sebuah rumah pimpinan, sebuah kantor (ruangan administrasi dan medis), sebuah pusat kegiatan (komputer, perpustakaan, tempat untuk bermusik dan menari). Sebuah aula multifungsi, rumah-rumah staff dan musala. SOS Children’s Village Meulaboh berdiri 25 Juni 2008, memberikan rumah keluarga bagi 150 lebih anak yatim piatu dan terlantar.

Di lokasi ini juga dibangun Taman Kanak-Kanak yang terdiri dari tiga kelas dan setiap kelas terisi 30 murid. TK SOS terbuka untuk anak-anak SOS dan masyarakat sekitar. Anak-anak yang lebih dewasa bersekolah di sekolah umum terdekat dengan village. Hal ini membantu mereka untuk tumbuh berkembang seperti teman-teman mereka diluar SOS Children’s Village.

“Yang tinggal di sini hanya anak perempuan saja. Bagi anak laki-laki, batas mereka menetap sampai kelas tiga SMP, setelah itu mereka akan ditempatkan di Rumah Remaja,” ungkap Hidayat, Pembina SOS Children’s Village Meulaboh.

Remaja laki-laki, akan pindah dari desa ke SOS Youth House atau Rumah Remaja, ketika mengikuti kursus keterampilan atau menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Rumah Remaja didirikan tahun 2008. Dengan dukungan dari para edukator yang terpilih, remaja-remaja ini belajar untuk mengembangkan perspektif yang realistis tentang masa depan, belajar bertanggung jawab dan berani mengambil keputusan sendiri.

Mereka dilatih untuk mengembangkan semangat kerja tim, menjaga hubungan dengan sanak keluarga dan teman, termasuk juga dengan pihak berwenang area sekitar dan pihak yang berpotensi mempekerjakan mereka.

Mulanya panti asuhan SOS Children’s Village diperuntukkan bagi anak-anak korban konflik dan tsunami. Namun seiring berjalannya waktu, latar belakang anak-anak yang ditampung semakin beragam. Mulai dari anak-anak yang kehilangan pengasuhan, anak-anak berkebutuhan khusus, anak berhadapan dengan hukum, anak dengan ekonomi lemah, hingga balita terlantar.

“Sebenarnya SOS ini sudah ada sejak 22 Desember 2005. Tiap tahunnya kita memperingati hari ibu sekaligus ulang tahun SOS,” ungkap Andi Saputra, yang telah memimpin SOS Desa Taruna Meulaboh sejak tahun 2010.

Andi Saputra berkulit putih, pembawaannya tenang. Hari itu ia memakai baju biru dongker dan celana hitam.

“Khusus anak berhadapan dengan hukum, saksi dan korban, untuk pelaku tidak kita terima,” terangnya.

SOS Desa Taruna Meulaboh menerapkan pengasuhan berbasis keluarga. Tidak ada asrama di panti itu. Melainkan rumah-rumah yang dihuni mulai dari tiga hingga delapan anak, serta seorang ibu asuh di setiap rumah. Semuanya berjumlah 15 rumah. Untuk sosok ayah, mereka dapatkan dari para koordinator dan pembina.

“Ibu asuh juga diseleksi dan diberi pembinaan sebelum tinggal bersama anak-anak,” ujar Andi.

Menurut Andi, saat ini anak-anak panti berjumlah 98 orang, dan jumlah itu bisa terus bertambah atau pun berkurang. Semua kebutuhan hidup mereka ditanggung sejak dari bayi hingga usia 23 tahun. Mereka yang sudah dianggap dewasa, akan memulai hidup mandiri, pindah dari panti. Meski begitu, pihak SOS tetap memberikan pantauan untuk mereka.

Seluruh anak-anak mendapat pendidikan sebagaimana anak-anak pada umumnya. Mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, bahkan ada yang berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Semua biayanya ditanggung oleh SOS.

Ketika anak-anak merasa siap, maka mereka dikembalikan ke keluarga masing-masing.

“Karena kita yakin jika keluarga adalah tempat terbaik bagi mereka. Family is best interest of the child,” ujarnya.

Beragamnya latar belakang anak-anak SOS, Andi meminta para tamu yang berinteraksi untuk tidak menanyakan tentang masa lalu mereka. Ia berharap, anak-anak tak lagi dibayang-bayangi masa lalu, untuk memudahkan mereka melangkah ke masa depan.

“Karena di sini beragam kasusnya, termasuk pelecehan seksual dan pemerkosaan,” jelasnya.

Meski ia menyadari, kenangan itu tidak mungkin menghilang. Namun keberadaan dirinya dan para pembina yang lain, berusaha mengembalikan keceriaan mereka dengan tidak terus mengungkit masa lalu.

“Saya menyesal, kenapa baru belakangan ini bergabung. Mengapa tidak dari dulu, SOS ini punya misi mulia, suatu usaha yang patut didukung oleh semua pihak,” ujar ayah tiga anak ini.

##

JARUM jam menunjukkan pukul 17 lewat 15 menit. Di aula sekelompok, sejumlah anak muda masih berkumpul. Mereka berdiri membentuk lingkaran. Mentor Basajan Creative School (BCS), menyampaikan progres anak-anak SOS sesuai bidang masing-masing. Dimulai dari penulisan kreatif, video, desain grafis dan fotografi. Semuanya menyampaikan hasil positif, seraya berharap tidak hanya berhenti di pelatihan sehari saja.

Iwan Doa Sempena, salah satu pembina mengungkapkan, butuh usaha untuk memperkenalkan kepada anak-anak SOS mengenai dunia di luar panti. Terutama untuk mengubah cakrawala berpikir mereka.

“Mereka paham bahwa kehidupan di luar panti itu berat, sehingga memberikan kesadaran bagi mereka untuk bersiap menuju kemandirian,” ujar Iwan.

Iwan berharap, literasi media kreatif yang ditawarkan Basajan Creative School, bisa memberikan hal baru bagi anak-anak SOS, sehingga mereka mampu bersaing dan berkarya seperti anak-anak di luar panti.

“Yang diperlukan saat ini adalah support dari semua pihak,” tutup Iwan.

Sementara itu, Kepala Basajan Creative School, Junaidi Mulieng mengatakan, program Basajan Saweu Panti telah lama direncanakan, namun karena berbagai kendala, baru dapat diwujudkan. Program tersebut sebagai bagian untuk memperkenalkan literasi media kreatif kepada generasi muda.

“Kita berharap anak-anak SOS bisa menjadi pionir dalam menyebarkan virus kreatif ini,” ungkap Junaidi.[]

 

Wartawan: Mellyan

Editor: Junaidi Mulieng

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan