‘Night Bus’ Luka Kala Perang

‘Night Bus’ Luka Kala Perang
Foto: toyota.asra.co.id

Meulaboh- Bis Babad mengangkut beberapa penumpang menuju Sampar, sebuah kota yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya, namun terjadi konflik berkepanjangan.

Sampar dijaga ketat aparat pemerintah pusat yang siap siaga melawan pasukan Samerka (Sampar Merdeka), para milisi pemberontak yang menuntut kemerdekaan atas tanah kelahiran mereka. Setiap penumpang bis memiliki tujuannya masing- masing : mencari penghidupan yang lebih baik, memenuhi kebutuhan keluarga, menyelesaikan masalah pribadi atau sesederhana ingin pulang ke kampung halaman.

Mereka berpikir bahwa ini akan menjadi perjalanan seperti biasa. Tanpa mereka sadari ada penyusup masuk ke dalam bis, membawa pesan penting yang harus di sampaikan ke Sampar. Kehadiran penyusup membahayakan semua penumpang. Orang paling dicari oleh kedua pihak yang bertikai, perintahnya temukan hidup atau mati!!

Situasi menjadi makin menegangkan ketika seluruh penumpang harus memperjuangkan hidupnya di antara desingan peluru. Mereka bahkan harus menghadapi pihak lain yang justru tidak menginginkan konflik berakhir. Kaum oportunis, pemelihara konflik karena mereka hidup dari konflik, kesadisan dan kebengisan mereka semakin memberikan teror pada para penumpang bis. Tidak ada yang tahu, siapa akan hidup dan siapa akan mati!

Itulah sepenggal kisah yang tertuang dalam film Night Bus. Film drama-thriller bertema konflik dan kemanusiaan yang dibintangi Tio Pakusadewo, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi dan Donny Alamsyah, untuk pertama kali diputar di Aceh pada ajang Aceh Film Festival (AFF), di Taman Budaya Banda Aceh, 9 Desember 2017.

Film  yang ditonton ribuan masyarakat Aceh ini, mendapat apresiasi dari para penikmat film, serta menjadi kebanggaan tersendiri bagi sutradara, aktor dan produsernya. Night Bus disutradarai Emil Heradi, dinobatkan sebagai Film Terbaik versi Festival Film Indonesia (FFI) pada September lalu.

Masyarakat Aceh yang pernah hidup dalam konflik berkepanjangan di masa lalu, merasakan hubungan emosional yang kuat dengan film Night Bus. Ruang gedung taman budaya yang sebelumnya riuh-riuh kecil, tiba-tiba senyap. Penonton seakan mendapatkan diri mereka dalam tiap adegan dan cuplikan gambar film tersebut.

“Saya merasakan seperti kembali pada masa lalu saat menonton film ini,” ujar Putra, salah satu penonton.

Film Night Bus, terinspirasi pada kisah nyata yang pernah dialami Rifnu Wikana, pada tahun 1998. Inti kisahnya, pada seorang pemuda yang hendak pulang ke kampung halaman. Namun di perjalanan, bis yang ditumpanginya dicegat pasukan bersenjata. Berbagai kejadian dan kendala pun mewarnai perjalanan pulang pemuda tersebut.

“Konflik yang terjadi saat itu, menginprirasi saya untuk menuliskan cerpen,” kisah Rifnu.

Aktor berdarah Aceh, kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara ini menuturkan, data riset yang kuat menjadi kekuatan utama Night Bus. Terutama karakter tokoh yang dihadirkan. Seperti anak-anak yang menjadi korban dari konflik.

“Itu semua cerita-cerita yang sangat dekat dengan kita. Hal itu juga yang menggerakkan saya untuk menulis cerpen. Saat ditulis kembali menjadi skenario, riset kembali diperdalam,” terang aktor yang terkenal dengan perannya sebagai Pak Bakri di film “Laskar Pelangi” tahun 2008.

Sementara itu, Emil Heradi menuturkan, tantangan terberat Night Bus adalah alur cerita yang harus dibangun dalam ruang sempit, tapi harus menghadirkan banyak tokoh pada malam hari.

“Cerita ini memang diangkat dari sisi kegelapan yang pernah terjadi,” kata Emil, yang juga aktivis pergerakan 1998.

“Nilai manusia itu lebih tinggi daripada kepentingan,” lanjut Emil.

Arief Andrian, penikmat film yang ikut menyaksikan pemutaran Night Bus berpendapat, film tersebut menceritakan bagaimana kepiluan dan sulitnya situasi daerah yang dilanda konflik. Seperti Aceh dan daerah lainnya di dunia.

Ia berharap, film Night Bus tak hanya dinikmati serta mendapat penghargaan tingkat nasional, tapi internasional. “Semoga film ini dapat menjadi pelajaran penting bagi kita semua, agar konflik yang pernah terjadi tak pernah terulang. Baik di Aceh maupun dunia,” ungkapnya.[]

 

Editor: Junaidi Mulieng

Tags: , , , , , , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan