Pelitaku, Gulitaku

Pelitaku, Gulitaku

Penulis: Nurmeli*

Cintaku,

Maafkan aku anakmu, belum sempat mencium keningmu subuh itu.

Engkau tahu, aku harus kembali ke kota setelah libur berkepanjangan. Menuntut ilmu agar menjadi orang yang bisa kau banggakan kelak.

Engkau sendiri mengajarkannya padaku bukan? “Belajarlah dengan sungguh dan rajin. Jika terkadang petir menjadi hujan, itu adalah proses. Hingga cita-citamu tercapai.” Begitulah selalu katamu.

Aku tahu, pipimu selalu basah ketika aku aku merapikan pakaian dan pergi lebih cepat dari biasanya. 

Aku masih belum lupa, saat itu engkau mendorong kursi rodamu perlahan mendekati aku anak bungsumu. Bibirmu tak henti tersenyum. Seperti biasa engkau kenakan kerudung hijau pupus favoritmu. Hari itu engkau terlihat lebih cantik dan anggun. Tasbih pemberian ku tak pernah lepas dari tanganmu. Kau elus kepalaku, memberkati aku dengan doa tulusmu, dan aku merindukan itu.

Maafkan aku, tak sempat mencium tangan lembutmu pagi itu.

Selang dua pekan lebih, lagi-lagi aku merasa gelap, gulita, sepi, sunyi dan pekat. Subuh itu, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak lelap itu, kabar duka datang menyapa.

Aku masih di sana, di tempat yang engkau harapankan  agar aku menjadi orang berilmu. Aku tidak pernah tahu bahwa engkau pergi meninggalkan aku secepat itu.

Engkau selalu menganyam kebaikan yang seimbang dengan keajaiban. Akan selalu teringat nasehat baikmu.

“Hati-hati di sana, pergilah dengan jiwa tenang dan hati gembira, senantiasa ingat kepada sang pencipta anakku.” Pesanmu tiap kali aku pergi meninggalkan rumah.

Maafkan aku tak sempat membasuh kakimu. Maafkan aku tak sempat menggantikan peluh keringatmu.

Di pagi yang sendu itu, aku belajar ikhlas, seperti engkau mengikhlaskan doamu untukku. Engkau yang selalu mengubur ekspresi ketika pedihnya kesakitan.

Maafkan aku, belum lagi sempat kubawa istana biru bertahta mahligai zamrud untukmu.

Hari itu, seolah tak ada lagi jalan menuju pintu rumah.

Aku pulang, seperti janjiku padamu aku kembali, tapi bukan harapku engkau pergi.

Mata ini mulai sembab memerah, serasa tertimpa hujan lebat. Jantung seolah tak lagi berdetak, nafas yang menghela-hela lemas, seakan tak ada satu tulang pun disetiap pergelangan. Dadaku terasa sangat sesak. Pagi itu, senyap sepi suasana. Penguasa udara tak dapat mengepak lagi sayapnya.

Di sepanjang jalan, aku hanya dapat berusaha tegar, bahwa penyemangat hidupku telah tiada, pondasi yang membuatku berdiri tegak telah pergi. Kecintaan yang telah memperkenalkan aku pada warna-warni dunia telah dipanggil oleh-Nya.

Jalan-jalan yang sering aku lewati seolah tak ada habisnya. Semakin roda ini berputar kencang, semakin ia terasa hanya diam saja. Aku hanya mampu pasrah dan berdoa. Hati ini teriris-iris kembali dengan puncak penyesalan yang terus menghantuiku. Penyesalan itu menggunung.

Sebuah tenda berdiri di depan rumah kita. Rumah Ibu dan Ayah, tempat aku menghabiskan waktu bersama denganmu. Selembar kain merah yang disangga pada salah satu sisi tiangnya, cukup menguatkan bahwa malaikat memang telah memanggilmu. Menunaikan perjanjian-Nya.

Aku terduduk lemas, merunduk, menopang kepala ini dengan kedua tanganku. Air mata tak dapat lagi terbendung. Aku hanya ingin rebah dalam pangkuanmu, lalu engkau memanjakan ku, Bu.

Seseorang memelukku dari belakang, pelukan yang sangat erat sekali. “Sudah, nak… sudah.” Bisikkan itu menghantakkan ku.

Aku berbalik dan bertanya, “Sudah? Apanya yang sudah? Mana Ibuku?” 

Kupandangi matanya, tak ada cahaya di sana. Wajahnya pucat pasi.

“Ibumu sudah dikebumikan, nak” jawabnya lirih, sambil menahan isak. Dadanya penuh sesak.

Tuhanku!

Lagi-lagi senyap dan sepi.

Tuhanku, temani pelita hatiku, bawa Ibu bersama-Mu, ke dalam surga-Mu. Wahai Engkau yang empunya hidup. Cintai dia, sebab itu yang dilakukan seumur hidupnya. Menyayangi dan mencintai orang lain.

Terimakasih untuk kasihmu yang abadi, tak akan pernah henti. Maafkan aku anakmu, belum sempat mencium keningmu di subuh itu, Ibuku! []


Ketidakmampuanku memberi apa-apa untukmu, kepada MDA
Agustus 2016.

 

*( Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

8 Responses

  1. Khalis7 Mei 2017 at 4:49 amReply

    Syahdu dan rindu, kekuatan dari cerpen ini 😉

  2. Vhalega7 Mei 2017 at 6:03 amReply

    Otakku mulai berimajinasi, keren

  3. eka dwika10 Mei 2017 at 2:54 pmReply

    Sekilas kicau 😀
    Sejak dulu sudah ku jejaki tapak ini.
    Entah apa yang membuat hati begitu berat melangkah pergi, meninggalkan segudang harap.
    Hingga, dingin dan hangat nya harapan, tetap akan ku tempuh walau daku belum mampu menggapai ujung cita.

    Alhamdulillah 🙂
    STAIN-TDM memiliki cerpenis sejenius dirimu Nurmeli. Kami tunggu adek bergabung bersama DEMA. Hehe
    #sukses selalu Basajan.Net

  4. KAU | Basajan News10 Mei 2017 at 6:00 pmReply

    […] Pelita Ku, Gulita Ku Mei 7, 2017 […]

  5. Zuanda Baransyah Putra16 Mei 2017 at 6:15 amReply

    Semangat 🙂

  6. Ombak | Basajan News17 Mei 2017 at 5:02 pmReply

    […] Pelita Ku, Gulita Ku Mei 7, 2017 […]

  7. Mely17 Mei 2017 at 5:12 pmReply

    Mantap

  8. Sajak Untukmu | Basajan News3 Juni 2017 at 9:15 pmReply

    […] juga karya Nurmeli […]

Tinggalkan Balasan